Showing posts with label Stories. Show all posts
Showing posts with label Stories. Show all posts

Tuesday, February 1, 2011

C E R M I N ( part 1 )

Seseorang menatapku dari dalam bar. Kuperhatikan dia sejak tadi aku masih main. Kuurungkan niatku untuk pulang, walau sebenarnya aku ingin cepat bersantai di losmen busukku dan memandikan tubuhku dengan timbunan uang yang membebani seluruh kantung pakaianku. Aku menang malam ini.
Aku menghampiri orang itu lalu duduk di sampingnya. Sesaat pandangannya lepas dari mataku untuk beralih ke bibir botol minumannya. Dahinya berkerut saat mulutnya tak menerima tetesan yang cukup. Yang barusan itu adalah tetes penghabisan. Dia menatapku lagi.
Aku mengeluarkan segumpal uang dan kulemparkan ke wajahnya.
"Aku tak suka diperhatikan siapapun. Uang itu cukup untuk membuatmu mabuk hingga matamu berhenti melihatku,"
Dia tersenyum pahit meremehkan ucapanku. Lalu perlahan ia meraba-raba jaket usangnya. Mungkin dia hendak mengancamku dengan pistol murahannya. Aku sama sekali tidak takut.
Ternyata ia hanya mengeluarkan sebuah cermin kecil yang kotor seperti telah terkubur ribuan tahun.
"Pria tua gila! Pulanglah dan bersolek sepuasmu!" umpatku.
"Ini untukmu, agar kau bisa melihat siapa dirimu," ia menyodorkan cermin itu padaku lantas beranjak pergi dengan membawa uang yang kulemparkan padanya tadi.
"Tidak tahu diri! Menghinaku, lalu pergi membawa uangku," aku tak habis pikir dengan apa yang dilakukannya.
"Aku tahu siapa diriku. Aku hanya pria tua yang tak punya uang lagi untuk membeli minum," jawabnya.
Buang-buang waktu aku menanggapinya. Aku melihatnya berbalik arah dan menghampiriku kembali. Aku sudah muak. Tanpa pikir panjang aku langsung menarik pistolku dan kuarahkan tepat di depan keningnya.
"Bisakah kau terlihat cantik di cermin itu?" ucapnya lantas pergi lagi tanpa rasa takut, tak menghiraukan sedikitpun apa yang aku lakukan.
Aku menurunkan tanganku yang hampir menarik pelatuk besi pembunuh itu. Lalu kupikir, tak ada gunanya menghilangkan satu orang gila di bumi ini. Mungkin suatu saat aku membutuhkannya untuk memberi makan monster.
Aku mengambil cermin kecil itu dan memposisikannya tepat di wajahku. Sungguh menjijikan. Sisa tanah-tanah kering yang menempel seakan menodai kulit wajahku. Aku melempar cermin itu entah kemana.
Aku berlari keluar hendak menghabisi pria tua itu. Namun ia sudah tak terlihat. Aku lantas pulang ke losmen.
* * *
Aku adalah pembunuh tercantik. Semua orang mengakui itu. Sekotor apapun cermin yang kupakai, tak akan merubah kecantikan itu.
Aku bergegas bangun dari tempat tidurku. Lantas kucari sesuatu berbentuk perigi yang bisa kugunakan. Hanya coffee maker di atas lemari senjataku yang bisa kutangkap. Kuambil dan kubawa lari keluar. Sempat terjatuh saat menuruni tangga, untungnya tidak pecah. Sampai di luar, tak sulit menemukan apa yang kucari di lingkungan kumuh ini. Tanah becek yang berlumpur. Aku mendapatkannya. Lalu aku tak segan mengeruk lumpur kotor itu dan memindahkannya ke dalam coffee maker.
Kubawa sewadah penuh lumpur ke dalam kamarku. Lalu aku bercermin sesaat di cermin dinding. Kupandangi diriku dari ujung kaki hingga kepala. Aku mengagumi diriku layaknya pria-pria yang telah kuambil hidupnya.
"Baiklah pak tua, sebisa apakah lumpur ini merusak refleksiku?"
Aku melumuri cermin itu dengan seluruh lumpur yang kubawa. Perlahan lumpur itu pun bergerak turun ke bawah bagai lilin yang meleleh dan mengotori lantaiku.
Aku belum ingin melihat bagaimana refleksiku sekarang. Rasanya mata kepala ini enggan untuk melihat pemiliknya, sosok pembunuh tercantik dalam cermin kotor. Ketika aku membuka mata, aku sedikit kecewa melihat refleksiku tak cantik lagi.
Aku tak bisa terima. Kuhancurkan saja cermin itu dengan kepalan tanganku. Tiba-tiba terdengar seseorang mengetuk pintuku dengan kasar. Aku membukanya.
"Kebodohan apa yang membimbingmu ke sini?" kata-kata itu seketika terlontar dari mulutku saat kudapati seorang pria tua tak tahu diri yang sempat membuatku melakukan hal-hal tak berguna seperti ini.
"Kemana kecantikanmu pergi, nona?" tanya pria itu tanpa basa-basi. Atau beginikah cara basa-basinya? Ia melangkah masuk dan duduk di kursi sudut.
"Masuk tanpa seijinku, sama halnya kau mengantar nyawamu."
Pria tua itu tak menggubrisku. Ia malah terkekeh-kekeh melihat cermin yang sebagian telah hancur olehku.
"Ha..ha..ha.Kau pasti benci melihat keburukanmu di cermin kotor itu."
"Kau tahu, kau memuakkan! Aku bisa menghentikan tawa dan aliran darahmu dalam enam detik."
"Tenanglah, Sam,"
Sial, darimana ia tahu namaku?!
"Samara. Ya, itu nama kecilmu. Bukan salahmu tentang keburukan yang kau lihat di cermin itu. Cermin itu yang kotor, bisa merubah keindahan menjadi keburukan." Ia mengoceh sendiri.
"Ungkapan yang tk begitu buruk untuk mengakui kecantikanku. Tapi sayang, itu tak menyelamatkanmu. Aku tetap akan membunuhmu,"
"Cermin itu bukan apa-apa, tak sebanding dengan cermin-cermin kotor yang mengelilingimu sekarang," ujarnya. Lantas ia melangkah ke depan cermin itu. "Rupa buruk yang kau lihat, itu kesalahan cermin. Tapi sebuah cermin kotor tak akan menutupi kecantikan sejati," ucapannya terhenti sejenak. Setelah menghela nafas, ia melanjutkan kembali, "Ibumu pasti menginginkan kau tetap cantik di hadapan cermin apapun."
"Kau terlalu banyak bicara. Aku semakin berhasrat membunuhmu.” Aku muak dengan ucapannya yang seolah lama mengenalku.
Masih tak ada perubahan pada mimiknya yang menggambarkan ia menggubris ancamanku.
"Kehilangan kepercayaan, kehidupan dunia hina, godaan membunuh, ketakutanmu, penantian pada ayah dan ibu, seharusnya tak menjadikanmu hitam. Karena kau terlahir dari rahim suci Issabela."

Tuesday, January 25, 2011

I Shared My Love with Kim (Part I)

(The refraction of a true story)


“Vi! Viola!”
“Yes, Mom?” Vi closed her door immediately at the moment she came up and answered her mother as if she’s hiding something in her room.
“Did I miss someone coming?” asked her mother who was passed her door by chance.
“Kim.”
“Your friend from Miami?”
Vi nodded.
“Why didn’t I notice her coming? Or maybe she didn’t want to see your mom just to say hi?”
“She’s tired, Mom.”
“Was she just landing from Miami?” Vi’s mother was frowning.
“No, uhm, she’s coming ‘bout five months ago. She just has time for visiting us right now.”
Vi’s mother just took a long breath and leave her daughter.
Vi went back her room and found Kim looked at a photograph she just found on the floor.
“I thought we’re friend,” said Vi.
“Course, you’re more than just a friend. You’re like my sister,” Kim answered.
Vi stared at Kim with her cold and flat expression.
“Wait! You’re upset because I looked at his picture, right?” asked Kim.
“Not at all.”
“So, why are you so mad?” Kim had no idea.
“I’m not mad, Kim,” Vi took the photograph from Kim’s hand. “Even I’ve told you that I would let him belongs to nobody. Yet if I had to, the one should be you, no exception,” said Vi staring down Kim’s eyes.
“You’ve told me that a thousand times, that you allow me to have him. No, Vi, I mean, I was never made for him. It’s only you. And if there are two women who deserve to him, they should be you and you,” Kim emphasized.
“Then you should stop hurting me,” seemed Vi brought her friend to another direction.
“What? I never hurt you!” Kim had no idea about what they were talking about. “Why you think I’m hurting you?!”
“You know, I always get crush on him in every single breath of mine,” Vi didn’t straightly answer her friend’s question.
“Andry? Sure. You know I’ve always been your biggest supporter to keep you near with him. And I always will be, Vi,” Kim uttered.
“Then stop hurting him! I don’t want you to harm his life again.”
Kim was speechless.
“Have you ever thought that everytime you hurt him, you know, you only brought me so much more pain. You successfully tortured me and always got me close to death,” Viola’s eyes were watery.
“I’m so sorry. I didn’t mean... listen, all I did all along is to make him sees that you’re always there for him, that you are the only one deserves to him ever. And…”
“By paying some guys to kill him, ruin his job till he got fired?” Vi was pretty mad. She didn’t even let her friend finished her words, yet she tried her best to chill herself.
“Vi, I always told everything to you, so you could help him like usually. I designed all of these stuffs because I had to make him depends on you! He’s gonna love you, believe me!” Kim convinced her.
“Kim, you gotta stop it,” Vi begged.
“I’m sorry, I can’t… I must do this for you. I don’t wanna see you like this forever, Vi.”
“Like what?”
“You know what.”

Friday, December 3, 2010

DESERTION OF NEMURA


Uvi rika mustika
I never asked to be born under the blue sky of Meredith, nor did I pray for living a longer life, but Zeus gave me them both. I longed to get only some air of justice, yet Themis was averse to hear my prayer.
The time had come. It would be the fifth time in my life when I must run an everlasting honor. Yes, it was an honor for the fainthearted, but for me, it was no more than fatuity. Yet I just could do nothing more than taking the orders, because I had no more life to live but a thing they told me constantly from the first time I was endowed with ears. I did remember how it’s whispered, “It is not a command, it just has been destined. You’re born to be Nemura the fourth.”
Nemura, a clan of deathless guards, providential to protect heaven and earth of Meredith, those were what Belva oracle told me and what she engrafted in everyone’s thought.
The oracle was a very essential person in the empire. Belva had been standing in that position from the first period of Meredith in the reign of Lord Bernessa. She was irreplaceble, despite the empire had been dethroned to Feretrius, son of Bernessa. She wrote and portrayed her visions on a long parchment that was used as the only guideline by the people in Meredith. What a peculiar to know a woman with her unsubstantiated words had stronger controlling power than the ministry.
My eyes were on a woman who was standing next to the window of my room. She was the daughter of Austrin, the head councilor of ministry. Her name was Phalosa. Her ageless face was the only beauty I’d ever seen. However, she had never let it touched by any man.
“How does it feel?” asked her.
“What?”
“When you go up to the altar, standing in front the scourger and feel every single whiplash touches your skin,” she explained her question vividly.
“I’m still here. When I go back and get better, you can ask me after while,” I answered.
“No, it’s been five years from the first time you were enthroned as a real Nemura, so you have been going through this four times before. How did it feel?” she forced me to remember.
“I don’t really remember,” I saw her waited for my further explanation. “I just remember my only prayer before I went up to the altar.”
“What was that?” asked Phalosa again. Her face seemed so curious, but her eyes were still too deep to be read.
“I wish there would be a whiplash by the scourger’s hand that could take my life away,” I said.
I guessed Phalosa could get what I was trying to explain. What I felt was much terrifying than people used to think. If Meredith cursed itself by sacrificing a mean birth child every year to Poseidon for keeping its naval force strongest in the eastern earth, Nemura was the other curse.
When I was a child, I only knew that I had no father, mother, even a name. They just called me Nemura the fourth, son of Meredith. But I never settled for it. My name was and would always be Logan. It was a giving from Phalosa when I was nine. She thought that name was really reflecting my hollow eyes. But view days ago, she said that I didn’t have them anymore. It might be the time which had opened my mind and eyes, so I could see the world through a wider sight. But how could that be? I didn’t even see the world for five years long.
People might think that my life was perfect. Sumptuousness, private dwelling in a part of the palace, manna, and glad rags, I might have them in my life but it made me no more than an inmate. It felt like serving a whole life sentence without standing a chance to know whether I was guilty. My life was taken completely five years ago when I reached nineteen, they ceremonially enthroned me as a real Nemura. It was the first time I learned about two great afflictions. The first was self-restraint, when no word with anybody except to the courtier, no walk outside the royal court, no future else but Nemura. The last one was pain. Every year, in a day that people called invulnerability ceremony, the scourger gave me whiplashes no less than my age number. I always remembered every single scratch of the steel rope on my skin, but it didn’t kill me no matter how much blood I dropped when they brought my body to my bed in my unconsciousness.
“What will you feel when you die?” asked Phalosa again.
I said, “I’ll feel so relief.”
She asked me why by her questioning look.
I always felt hard to figure out what was hiding behind her spoken words, but I was sure that Phalosa would never ask an empty question. I asked her back, “I will never die, will I? Why your question sounded rhyming to me?”
“Only death itself will show you the way,” she toned down.
“I hope,” I saw her defiantly and continued, “At least, there will always be a goddess who eases my wounds away.” It might sound like flattery, but it was real. She was a goddess who always saved my life, the only one who cured and took care of me thereupon the useless ceremony passed through. I needed her to know that everytime I got conscious from my dying in pain, all my wants to leave this life just disappeared when I saw her in my side.
 “Phalosa!” called an old lady whose face was very familiar ending up my discussion. Her presence was like a wind. We didn’t even hear the sound of her steps. “Your Father’s looking for you.”
Phalosa went out of my room without a word. Somehow I thought she didn’t really like most of the courtiers, including that woman.
“What brings you here, Belva?” I tried to hide my displeasure.
“You do know who you are. Do not try to cross your destiny!” she didn’t answer my question but I knew what she meant. She warned me about one of Nemura’s laws, never been touched by desire and affection.
I had nothing to say. Her words sounded like spell that locked my lips.
The oracle came closer to me and whispered, “I got a vision last night. This will be your last invulnerability ceremony. I have seen some premonitions toward a newborn of the next Nemura.”

“Who else would be a sacrifice?” I was sick of keeping my perversity.
“You mean ‘an honor’?” she interrupted. Her sharp eyes forced me to think the way she thought. “He will be born tonight, when demon star’s showing itself in the southernmost sky,” she continued and then walked out my door then.
I didn’t know what to think. It was a common law when a new Nemura was born, the former one would move to Olympus, a great temple on west hills that was built by Meredith as a libation. All the former Nemuras lived there and kept an eye on the empire. I should take that chance with a pleasure, for living in Olympus would be wonderful with no more restraint and annual tormenting, but I was thinking of another thing. I didn’t even believe in the immortality of mine as a Nemura. It had to be ended right there, right then.
“Have you been ready, Logan?” somebody asked me.
I knew that voice. No one called me that name except Phalosa. She brought me a robe to be worn in my last ceremony.
“Yes.” I answered. “Isn’t it wasting time to wear this and then remove it on the altar?”
Seemingly she paid no attention to what I said.
“Did Belva say something?” she was so serious in asking me.
“Yes, she told me that she has found the next Nemura,”
Unexpectedly, she held me in her embrace and dropped so many tears. I didn’t really know what happened. She might be filled with anguish because I would not live in the palace anymore. I comprehended what she felt. She had been mothering me since I was a baby and being the only one who knew me most.
“No, don’t cry, Phalosa!” I begged.
She let go of me ploddingly and told me that she could not be present at my last ceremony.
“I must go to get all I’ll need to salve your wounds,” said her afterwards.
She didn’t have to do that if only she knew what I had planned. She left my room when two empire guards came to bring me out to the ceremonial place at the heart of town.
***
“Welcome to the invulnerability ceremony of Nemura! It’s the fifth time of Nemura the fourth to prove his immortality in front of us. We must be grateful to our beloved emperors, Lord Feretrius, and his late Father, Lord Bernessa. In their wise leaderships, Meredith has already had four Nemuras to protect this empire till the end of time.”
I heard every word that came out loudly through the protocol’s mouth among the solitudes around the altar. And when he stopped, the people threw their plaudits with big enthusiasm in their mind.
“All of you, including people from the outer of Meredith, are welcome in this ceremony! Come, come and see this with your naked eyes then let your friends, families, and your beloved emperor know how deathless Nemura was made. And now is time for Nemura the fourth to have his own honor!” the protocol continued his speech fervently.
I would remember every step I took that led me to the altar that day. It would be different with the former ceremonies I had ever been through, for people and I would see and find out how deathless a Nemura was made.
The scourger seemed longing to see me. I stood right in front of him and turned around. My back was ready to meet his whip again.
“Splash! Splash! Splash!...” I had felt fifteen whiplashes on my back, yet I still had enough strength to stand up on my feet.
“Splash!” I got down on my knees at the sixteenth whiplash. I couldn’t really see the light, but I still had enough power to get up until the twenty-sixth whiplash scratched my neck. Then I was lying down.
I took out something that I carried on my footgear and gave it to him. It was a dirk.
“Use this to try me!” I gave him command,
“No,” he pushed it aside.
“You do believe that I can’t be dead, don’t you?” I tried to convince him.
“I… I believe,” the scourger was shuddered.
“Thrust it on my chest! Now!” I shouted.
He took back the dirk on the side part of the altar and finished me. Everything turned to dark and people sounded like storm.
***
I thought the sky was closer than it used to be. It made me see where the field of peacefulness lied. I felt an unspeakable pain on my chest. Then slowly an angle touched me by the hand. Unfortunately, the light was blurring my eyes from her beauty.
I hadn’t had enough strength yet to hear her spoken words. I closed my eyes again. The journey to nirvana felt like a deep sleep.
“Wake up…!” The voice of an angel awakened me. I thought she was the same angel who I saw before.
“Wake up! It’s been thirteen days, Logan. You slept too long,” 
I heard she breathed my name. I recognized her face, “Phalosa?”
“I am.” she whispered.
I forced my body to get up when I felt my chest was so much better, then I sat on the ground. I looked around and realized where Phalosa and I were. We were on the top of west hill, at the yard of Olympus. Then I understood why I felt closer to the sky.
“It’s a miracle! Zeus blessed you,” Phalosa was so grateful. “I still have much Aloes to salve your wounds,” she talked to me.
I was wondering why I was still alive and why Phalosa could always find a way to save my life. There were too much questions in my head and she should have the answers for me.
“How could you save me?” I asked.
“I knew what was in your mind, Logan. I saw what you hid on your footgear,” she answered. That was why she went somewhere to get Aloes in the day of my last ceremony, for it was the only nostrum for curing stub wound. “I told the courtiers that you have died. And by the command of Austrin, the ministry helped me to get your body out of the empire,” she continued.
“I need to know how it began. Tell me everything, Phalosa!” I insisted her.
She sat next to me and did what I asked.
“Do you know who was Nemura the third?”
“Iris,” I answered.
“And do you know who’s Iris?” her look changed into fierce.
I shook my head.
“My sister. She was my old sister,” said Phalosa. Her eyes seemed holding back the tears. “She’s just a woman! I saw her dying…” she cried.
I would never know it if she didn’t tell me. “Why did your father let it happen?” I thought her father who had the major power in ministry could guard his daughter against Belva’s divination.
“Austrin is not our father. We came from Assyria. Our parents were dead in a civil war. Iris, only her I got left. I was eight when fate led us to Meredith. Austrin took care of us and gave us love like a father, but he had no enough power to refuse Feretrius’ command,” said Phalosa.
“Unbelievable. A Nemura wasn’t born in Meredith?” I was really confused for all I knew, Nemura must be a son or daughter of Meredith.
“No, Iris was only a sacrifice. Nemura the third must not be her, but Quintina!” She didn’t look like whom I used to know. There were a lot of furies that I never saw in her deep eyes before.
“The Princess?” my confusion was getting more and more.
“Yes. Feretius couldn’t do anything but accepted when the oracle told him about the divination for his daughter. He wanted to refuse, but he couldn’t. Till a day before Quintina was enthroned as a real nemura, Feretrius didn’t have enough strength to see his only daughter in pain. He went begging to Belva, asked her to save his daughter’s life. His wish was granted. Belva went asking apologies to all of people in Meredith and said that she was wrong in seeing the premonitions of who was foredoomed as Nemura the third, and easy to let her forgiven. Then Iris was chosen to replace the princess’ position,” she tried to be strong in telling me.
It sounded like calamity. “Why didn’t Feretrius just order Belva to end up foredooming nemura? He could do that,” I had a notion.
“He was fright. The emperors of Thorac and Honuran have been bowing down under Meredith’s control for several years because they were afraid of the immortality of Nemura. Feretrius couldn’t imagine what would happen if they knew that they have been befooled all along.”
“You mean Nemura is only a hokum?” I tried to conclude her explanations.
Phalosa did not straightly answering that question, but she explained, “It’s all begun at one’s ambition. Bernessa. He wanted to take over the whole eastern earth. He ordered Belva to create a great divination that could symbolize the regalia of Meredith. And the oracle created a clan named Nemura that means immortality. People would believe her, for Belva oracle was renowned in the eastern earth and she was good in planning everything. She held the invulnerability ceremonies to convince people that Nemura could not be killed.”
Thus I had a reason to dislike her all along. “All her visions were only lies, weren’t they?” I said then to clarify.
“Belva does have those visions. In her restrictiveness, she sees what would happen in the future like birth, disaster, and death. When her vision toward somebody turns to dark, she assumed that death was above his head. Do you remember the last thing she told you?” asked Phalosa.
“A new Nemura will be born.”
“That was the same thing my sister heard from her before she executed her third invulnerability ceremony. Then she died. At the same time, she used all her vision to look for a strongest newborn man or woman in Meredith to be the next Nemura, and she found you.”
Then I knew why Phalosa cried over me when Belva told me that thing. She thought that death was above my head.
“How could you know all of this?” I was gaping at her.
Phalosa took something from her backside. It was a parchment.
“I stole this from Belva. All people use it as their guide, but no one ever read it. She wrote everything in this parchment, including her pleasure to place Nemura’s ashes in Olympus,” said her.
It all flabbergasted me. I could not stop thinking how it could happen. My thinking was broken off when my ears caught uproar. It should be coming from Meredith.
Phalosa stood up to see it. “Look over! The time has come,” she uttered.
I followed her and saw what happened in Meredith. “The cavaliers from Thorac and Honuran. They’re coming to judge Meredith.”
“Two doves have brought the messages,” Phalosa threw a smile.
I really knew what she talked about. She should let Thorac and Honuran know the truth by sending a messenger to each emperor.
She seemed so blissful to see Nemesis answered her prayers. She said, “I love to see the world from here. I love to see fire on Meredith’s sky.”
“I’d love to live and die beside you, Phalosa,” I told her following her rhyme and looked at her eyes at the same time.
She looked me back and said nothing. Then she took my palm and placed it on her cheek.
I read something on her deep eyes, she would follow me to whatever ends.

Monday, November 29, 2010

Bad Prince n BeautiFOOL (part 1)


UVi

Beautifool, seorang yang cantik namun kebodohannya yang tersohor membuatnya amat mengenaskan. Hakikatnya, ia adalah gadis yang cerdas dan terhormat. Namun karena sepenggal pengalaman hidupnya, citra beautifool berubah secara mendadak. Tapi mungkin ia memang lebih cocok dikenal sebagai Fool dari sejak dulu.
 Kala itu ia baru saja melabuhkan dirinya di sebuah negeri yang tak begitu asing baginya. Meskipun Ia belum pernah sekalipun menginjakkan kaki disana, namun ia sering mendengar penduduk desa mengagungkan namanya, SACREDLAND!
Negeri itu memang indah. Tak ayal jika banyak hati terpikat menetapi-nya. Tanah nan damai beserta senyuman langit yang bisu. Sungguh menjamah hati! Namun… ia pernah mendengar sesuatu yang kelam tentang negeri ini. Ia teringat akan kisah sakral sebuah jiwa nyaris mati. Ialah sang ruh, nyawa satu-satunya yang memegang negeri ini. Kabarnya tak lama lagi seluruh Sacredland akan keras membatu melebihi karang jika ia sampai teracuni masa lalunya sebagai sosok tak berhati. Tapi siapakah dia sebenarnya? Benarkah ia nyata?
Fool tak begitu peduli akan hal itu. Seperti orang-orang yang ia lihat. Mereka senang-senang saja berada dalam kota ini, dan ia pun harus! Sia-sia saja ia melancong ke negeri yang sering ia mimpikan ini jika pada akhirnya ia hanya berada dalam ketakutan yang tak tertuju.
Akhirnya ia berjalan-jalan ke tengah kota seorang diri. Tak heran, karena sejak dulu ia selalu sendiri. Sayangnya kesendirian itu tak dimulai untuk berakhir. Dan mungkin kesendirian itu hanya berkenaan kalbu, karena itu bukanlah kenyataannya. Meskipun demikian kosong ruang hatinya, beruntunglah ia masih bisa menjalani dengan cukup baik. Setidaknya tidak terlalu buruk untuk seorang dayang dari putri tunggal bangsawan besar.
Di tengah kota yang mungkin takkan sepi hingga larut malam tersebut, ia menemui iringan penduduk dengan pakaian serba putih, dari yang renta hingga anak-anak yang seluruhnya adalah kaum hawa, mutiara dunia. Mereka melangkah lamban dan kaku ke satu tujuan. Pantas saja! Sepertinya semua wanita di kota ini ikut dalam barisan tersebut. Ia baru sadar jika orang-orang yang ia temukan sebelumnya hanyalah tuan-tuan. Benar-benar tak ada satupun wanita yang terpisah dari barisan. Terlebih ia melihat mereka meneteskan air mata tanpa henti selayaknya iringan duka. Tanpa kecuali. Sedangkan para pria begitu tak peduli akan keberadaan sang hawa. Mereka tertawa, bersenda gurau, berkerumun dan berjudi. Beginikah sesungguhnya Sacredland?
Salah satu wanita tua dalam iringan duka itu menariknya masuk ke iringan. Beautifool hanya bisa terdiam dalam keheranan yang mendalam. Ia mengikuti mereka. Berjalan ke satu arah. Entah rasa takut ataukah besarnya rasa penasaran yang membuatnya terpancing mengikuti sebaris iringan duka terburuk yang pernah ada.
Barisan penuh tangis nan menyedihkan. Tapi bisa saja diantara orang-orang itu, ialah yang paling tak biasa. Tidak lain dan tidak bukan karena apa yang melekat di tubuhnya. Benar, ia memakai gaun berwarna biru, koleksi terbaik yang pernah ia miliki dan ia gunakan pertama kalinya untuk mengunjungi Sacredland. Pun ia merasa masih ada hal yang membuatnya terlihat aeh di antara kaum hawa yang lain. Hal itu adalah… air mata. Tidak! Haruskah ia menangis sekarang? Ini gila! Untuk apa?!
Fool berpikir jika ini adalah akibatnya karena ia berkeras hati untuk datang ke negeri ini seorang diri. Sampai-sampai ia nekat menyelundup ke bahtera niaga milik paman Lady Evelyn, putri bangsawan yang ia dampingi sejak kecil. ‘Sacredland, aku tak tahu apapun tentangmu,’ ucapnya dalam hati.
Lamunan Fool membuyar saat mendengar teriakan seorang nenek renta di sampingnya.
“Berdukalah! Untuk satu kali saja di tahun ini.”
Beautifool mengerti maksudnya. Mungkin nenek itu menyuruhnya untuk menangis seperti yang lain. Tapi buat apa? Ia tak ingin turut manjadi gila seperti mereka. Ia pura-pura saja tidak mendengar.
“Berdukalah!” sekali lagi ia berteriak, namun kali ini ia menepuk bagian belakang kepalanya dengan telapak tangan yang sudah mengkerut terbakar zaman.
Bersama seribu kali kata terpaksa, akhirnya Fool menangis tersedu-sedu meski tak satupun air mata yang dihasilkan. Terlihat sekali tipuan dalam tangis berbunyi paling keras tersebut. Mungkin lebih tepatnya ia menangis terbahak-bahak.
Akhirnya langkah iringan duka itu terhenti. Fool keluar dari barisan tersebut untuk melihat ke ujung depan. Begitu takjub ia menatap sebuah bangunan besar nan elok di depannya. Itu sebuah istana. itu membuat-nya kembali berniat memuji Sacredland, yang ternyata bukan hanya sekedar MIMPI BURUK.
“Cepat kemari, bodoh!” ujar wanita tua itu kembali. Air matanya tak jua berhenti menetes. Begitu pun wanita  lainnya. “Sebentar lagi kita memasuki GRIEVIA CASTLE!” suara paraunya terdengar lagi.
Perlahan-lahan semua wanita melewati gerbang Grievia Castle. Dan sekali lagi Beautifool memuji keindahan istana itu. Dari dekat memang lebih menakjubkan dibandingkan apa yang ia saksikan dari kejauhan. Segala bentuk impian sepertinya ada dalam istana ini.
Pintu istana itu terbuka juga. Fool tak sabar untuk cepat memasukinya. Tapi apa boleh buat, ia mendapat barisan yang cukup belakang. Namun beberapa saat kemudian, ia mendapati wanita-wanita di barisan depan yang masuk lebih awal, kini kembali keluar melewati pintu yang sama. Tapi kali ini mereka tersenyum lepas. Begitu damai. Mereka berbagi pintu dengan yang masuk.
Kini sang Beautifool yang akan masuk bersama barisannya. Ini bagai saat-saat indah yang mungkin semestinya diabadikan dalam kenangannya. Karena belum tentu Lady Evelyn pun bisa masuk ke tempat seperti ini. Bangga sekali rasanya bisa lebih berpengalaman dari sang majikan.
GRIEVIA CASTLE memang berbeda dari istana-istana dalam dongeng. Mungkin inilah yang lebih indah. Dan mungkin juga itu hanya pendapat Fool, si pemimpi yang sukar bangun dari tidurnya.
Sambil terus memandangi lampu berbandul intan di atasnya, Fool melupakan tujuan utamanya datang kemari. Apa tujuannya? Ia pun tak tahu apakah itu. Hingga ketidakpekaannya pun membuatnya harus terkejut melihat sesosok pria yang duduk di atas singgasana megah di hadapannya.
Begitu ia menyadari ternyata wanita-wanita itu mengeluarkan satu kantung kain dari jubahnya. Isinya adalah beberapa genggam kelopak bunga yang begitu indah dan harum. Belum pernah ia melihat kelopak bunga seperti itu sebelumnya. Warnanya merah kebiruan tapi bukan ungu, ujung kelopaknya bagaikan ujung mahkota raja-raja besar yang biasa diberi batu-batu mulia.
Seseorang dari mereka maju menghadap pria itu. Yang pasti dia bukan Beautifool.
“Kami memberikan kelopak Immortalight yang hanya ada di puncak tertinggi Cloudymount yang selalu malam, sebagai rasa bela sungkawa kami terhadap masa lalumu yang kelam, wahai ruh negeri kami!. Semoga ia tak akan pernah mengambil alih dirimu!”
Apa? Benarkah dia sang jiwa yang memegang negeri ini? Dia betul-betul ada? Fool tak habis pikir dengan semua ini. Kemudian para wanita satu demi satu menaruh kelopak bunga tersebut dalam guci kristal di sampingnya. Namun saat wanita tua yang sejak tadi berada di sisinya akan memasukkan kelopak tersebut, pria itu menolaknya. Ia mendorong perempuan tua itu dengan sebuah tongkat perak setebal ujung ranting yang sejak tadi ia pegang. Nenek itu terjatuh. Kelopak Immortaliht berhamburan.
Fool yang hakikatnya lembut, tak dapat menahan rasa kasihannya. Ia menghampiri sang nenek dan membantunya bangun. Hasratnyalah kini untuk memaki-maki pria yang sama sekali belum terlihat wajahnya sejak pertama kali sosoknya tertangkap mata Beautifool.
“Ia berbicara saat kemari!” ucap Pria Berjubah elok  sambil menunjuk nenek itu.
Fool tak mengerti apa yang ia ucapkan. Ia membantah, “Apakah yang membuat orang bersalah karena berbicara? Akulah yang mengajaknya bicara!”
Pria itu murka. “ Pergilah kalian semua dari istanaku! Kecuali kau yang membantah dan perempuan tua yang bersalah itu!”
Wanita-Wanita itu berhamburan keluar dari pintu dan gerbang istana. Fool menarik nenek itu keluar. Ia rasa kali ini bukan saatnya untuk menuruti perintah seseorang yang ia tak kenal. Ia lebih baik kabur bersama yang lain. Karena ia pasti bebas tanpa adanya satu pun penjaga istana. Namun saat ia hendak membawa serta sang nenek keluar dari istana, pintu besar itu menutup rapat. Kini hanya ia, sang nenek, dan pria kejam yang tidak lain adalah sang ruh negeri yang berada dalam istana tersebut.
* * *
Penjara yang gelap dan beku kini lagi menemani tubuh wanita tua yang renta. Ia sendirian tanpa selimut, tanpa syal hangat, dan tanpa seseorang yang mungkin bisa membuatnya tenang.
Lalu kemana Fool? Gadis yang tadi bersamanya. Apakah ia sudah di-bunuh oleh pria yang hampir tak punya hati itu? Ruh negeri itu? Malang sekali nasibnya! Sudah jauh berkelana, berharap mendapat yang indah-indah, malah harus mati muda!
Tidak! Fool belum mengusaikan kisah bodohnya. Ia tak mungkin mati secepat dan sebodoh itu. Pasti lebih bodoh dari itu!
Fool dikurung di kamar yang gelap. Tak lebih baik dari keadaan penjara kastil tersebut. Ia terbangun ketika seseorang membuka pintu kamar. Cahaya masuk ke daalm ruangan tapi tak banyak. Hanya dari lentera redup yang dibawanya. Fool tak mengenali sosok itu. Yang pasti bayangannya tak melukis-kan pria menyeramkan yang beberapa saat mengurungnya. Dia seorang wanita.
Tubuhnya semakin dekat. Sepertinya Fool mengenali dirinya. Seperti telah lama mengenal sosok itu. Wanita itu membungkuk ke arahnya. Dan saat lentera di tangannya menyinari wajahnya…
“Lady Evelyn? Benarkah itu kau?”
to be continued...

Percikan denting


Uvi
Kediaman keluarga Dimitri memancarkan cahaya kebahagiaan dalam kemewahannya malam itu. Rangkaian bunga dalam vas kramik impor bertengger di setiap sudut ruang, warna-warni minuman dalam gelas-gelas kaca tersusun rapi bagai tumpukan batu menyusun piramida mesir, serta hidangan-hidangan pelengkap jua tak kalah istimewa dalam acara pesta kala itu. Mobil-mobil mewah yang berderet memenuhi halaman rumah yang lapang mengibaratkan diri sebagai rombongan semut yang berhasil menemukan lumbung gula. Memang, keluarga Dimitri amat pantas menyandang pengibaratan sebagai lumbung gula, tepatnya lumbung gula kosong yang nyaris roboh namun dengan beruntungnya ia akan segera bangkit dari ketidakberdayaannya ketika berhasil menjual sisa-sisa butir gula yang tercecer di tanahnya kepada seorang dermawan dengan harga mahal.
Sementara itu kediaman Hartandita, tempat sebuah keluarga berputra tunggal yang amat disegani makhluk-makhluk pebisnis itu tinggal tengah menyepi lantaran sang penghuni sedang menuju ke perayaan mereka yang tidak lain juga merupakan pesta keluarga Dimitri. Hanya ada beberapa orang kepercayaan berseragam satpam yang sengaja ditempatkan di sana untuk menjaga harta kekayaan mereka.
Nampaknya keluarga Dimitri amat bahagia menyambut kedatangan para anggota keluarga Hartandita.
“Sepertinya kita tidak perlu menunggu lama untuk melangsungkan acara pertukaran cincin,” terdengar suara Nyonya Dimitri di tengah-tengah pembicaraan dua keluarga yang berencana mempersatukan diri tersebut.
“Ya, saya rasa juga begitu. Lagi pula kan... kata orang dulu, tidak baik menunda-nunda sesuatu yang baik,” dukung Nyonya Hartandita.
Sementara itu tanpa khawatir derajatnya akan menurun, Tuan Hartandita sangat asyik berbincang dengan para pekerja rumah tangganya yang ketika itu ikut membantu melayani para tamu.
“Fallen, saya ingin kamu menyanyikan sebuah lagu untuk mengiringi acara pertukaran cincin anak saya,” pinta Tuan Hartandita kepada seorang gadis, putri kepala rumah tangganya.
“Ya, Tuan!” jawab Fallen lirih.
“Kau baik-baik saja, Fallen? Sepertinya kau nampak kurang sehat. Kalau kamu tidak bisa, tak masalah. Mungkin sebaiknya kamu istirahat!”
“Tidak, terimakasih Tuan! Kalau masih boleh, saya bersedia mengiringi acara tersebut,” gadis itu menawarkan diri.
“Tentu! Saya akan sangat senang sekali.”
Tuan Hartandita memang sangat simpatik kepada Fallen. Ia mengaguminya, apalagi jika Fallen memainkan piano besar di tengah istananya, boleh jadi ia telah jatuh hati dan menganggapnya seperti anak sendiri.
Seluruh keluarga dan tamu undangan bersuka cita memulai acara simbolik itu. Putra keluarga Hartandita, Geriand Hartandita, dengan putri keluarga Dimitri, Nastiti Paula, akan resmi bertunangan.
“There’s nothing I can do when you’re fading away
 There’s no chance to refuse your going
 Because that’s all your heart really need...”
Terdengar sebuah lagu dinyanyikan oleh sang pengiring untuk pertunangan tersebut. Tetesan air mengenai tuts piano yang sedang dimainkan. Lantunannya terdengar begitu indah tanpa ada seorangpun yang mengetahui seberapa keras ia mengusahakannya. Namun untunglah, tak seorangpun menyimak dan membahas kesesuaian isi lagu tersebut untuk dinyanyikan pada momen itu. Semua terfokus pada proses berjalannya cincin mengikat dua jari insan yang sedang kasmaran tersebut. Lagipula mereka hanya menangkap sisi harmoni yang kental pada irama lagu tersebut.
“You’re the only love in my sorrow
 And you’ve always been the man inside my heart
 You’ve always been the man inside my heart...”
Mereka semua bertepuk tangan. Berbahagia. Namun tidak sebahagia Geriand sang tuan muda dan Paula kekasihnya yang kala itu berhasil meresmikan hubungan mereka ke jenjang yang setidaknya lebih mengikat mereka atas nama cinta.
Fallen. Gadis ini ternyata menaruh rasa cinta yang teramat kepada tuannya. Perasaan nan tak patut ditindak, juga terlalu mengecewakan untuk berakhir semudah ini. Cinta untuk insan lain jenis ini terlampau sempurna untuk menjadi jawaban di dunia jikalau cinta memang terlahir atas nama ketulusan, pengorbanan dan kehormatan.
Selesai perayaan tersebut, keluarga Hartandita memutuskan untuk kembali ke kediamannya. Entah mengapa Nyonya Hartandita bersikeras untuk tidur di rumah besarnya sendiri malam ini. Padahal, keluarga Dimitri sudah menyiapkan kamar khusus untuk mereka bermalam. Sementara para pelayan, termasuk dari pihak Hartandita yang ikut membantu terpaksa bermalam di kediaman Dimitri karena kemalaman usai membenahi segala sesuatu pasca pesta.
*          *          *
Pagi yang tak begitu hangat nan masih gelap menghadiahkan pertunangan mewah tadi malam sebuah berita yang terdengar bagai dentuman piano rusak yang sengaja dibunyikan di waktu sunyi dalam istana kosong.
Mobil yang ditumpangi keluarga Hartandita hilang kendali dan menabrak dinding terowongan. Seluruh penumpangnya tewas, terkecuali........Geriand! Putra tunggal Hartandita yang kini menjadi pewaris tunggal tahta dan harta keluarganya berhasil lompat keluar dari mobil yang bernasib naas tersebut. Tubuhnya terpental dan terseret di aspal. Kini ia kritis. Kakinya patah dan ia mengalami kebutaan!!!
Nastiti Paula begitu shock mendengar kabar tentang kekasih hatinya tersebut. Tak lama pula untuk pecinta geriand yang sejati, Fallen, untuk mengetahui peristiwa tersebut.
Rumah sakit Umum di tengah kota menjadi wadah air mata bagi orang-orang teredekat keluarga Hartandita.
“Syukurlah, masih ada anggota keluarga yang selamat! Entah bagaimana jadinya kalau Geriand pun ikut tewas? Seluruh harta kekayaan mereka pasti jatuh ke tangan panti-panti,” ungkap Tuan Dimitri.
“Cukup, Ayah! Tega sekali dalam situasi seperti ini ayah lebih memikirkan harta yang bukan milik ayah dibanding berempati pada keadaan mereka!” Paula menghardik ayahnya. Ia belum berhenti menangis sejak ia mendengar kabar tentang kecelakaan itu.
Nyonya Dimitri melirik suaminya dan memberi isyarat agar ia lebih menjaga bicara.
Sementara itu, tak dapat terlukiskan sehancur apa persaan Fallen melihat kekasih hatinya dalam keadaan dan perasaan seburuk itu. Kalau saja bisa ia menggantikan Geriand untuk menanggung semua beban dan dukanya, itu mungkin akan lebih baik baginya.
*          *          *
Dua bulan berlalu meninggalkan peristiwa tersebut. Geriand kini pantas menyandang sebutan ‘pria kaya yang buta dan lumpuh’. Ia dirawat di rumahnya oleh orang-orang yang telah membantu keluarganya sejak dulu. Sementara itu keluarga Dimitri senantiasa membantu urusan perusahaan serta semua bisnis yang kini sepenuhnya milik Geriand.
Setidaknya sekali dalam seminggu, Paula tak pernah absen menjenguk tunangannya ke kediaman Hartandita. Bulan lalu ia hampir setiap hari menemani kekasihnya. Namun kini ia lebih sibuk mengurusi sebuah perusahaan properti milik Geriand. Namun bagi Geriand, Paula selalu ada buat dirinya setiap saat ia membutuhkan.
Terapi kaki Geriand terus memperlihatkan kemajuan hari demi hari. Meskipun hanya dilakukan di teras belakang rumahnya dan tak lagi dengan bantuan tenaga ahli, namun sekarang ia sudah mampu berdiri dibantu besi penopang.
“Paula..! Paula, lihat! Aku sudah bisa berdiri,” ucapnya gemetar.
“Hati-hati, Geriand!” gadis itu menperingatkan Geriand.
Tiba-tiba Geriand melepaskan besi penopang tersebut dan ia terjatuh. Seketika gadis itu mengulurkan kedua tangannya untuk menangkap tubuh Geriand agar tak jatuh terbanting. Sikunya pun terbentur lantai marmer dan terluka saat mencoba menahan Tubuh pria itu. Ia lantas memopong Geriand ke kursi rodanya.
“Maafkan aku, Paula! Kau tak apa-apa kan?” tanya Geriand merasa bersalah karena telah menyusahkan. Ia tak dapat melihat darah dari siku gadis yang terluka itu menetes ke kemejanya.
“Tidak, aku baik-baik saja. Kau bagaimana?”
“Aku tak apa-apa. Aku... aku selalu merasa nyaman bila kamu ada di dekatku.”
*          *          *
 “Paula, aku tidak yakin jika masih ada harapan untuk kumelihat lagi,” tutur Geriand di taman belakang. Wajahnya tampak begitu muram.
Ia bangun dari kursi taman tersebut dan berjalan ke suatu arah. Seminggu yang lalu ia sudah mulai bisa berjalan walau dengan menggunakan tongkat. Mungkin tinggal dalam hitungan hari atau paling tidak beberapa minggu untuknya bisa melepaskan tongkat penopangnya itu.
“Tak pernah ada kata mati untuk sebuah harapan. Aku jadi ingat sebuah kisah tentang seorang hamba sahaya yang selalu berharap mendapatkan cinta tuannya. Ia rela berkorban apapun asalkan ia bisa melihat tuannya bahagia. Tapi sayangnya, tuannya itu tak sedikitpun peduli padanya. Hatinya tertambat kepada wanita lain. Tapi terakhir kudengar, kini ia bisa selalu menemani tuannya, di saat tawa maupun duka.”
Sesaat Geriand tertegun. “Apa kaitan cerita itu denganku?”
“Mm… itu hanya salah satu gambaran bahwa harapan tak pernah hilang.”
Geriand tersenyum.
“Paula, apa kau mau menemaniku belajar membaca hari ini?” Geriand memang sedang mempelajari cara membaca huruf Braille.
“Tentu.”
Suasana hening seketika.
“Geriand, aku dengar... ada seorang dokter ahli mata dari Australia. Dia telah sekian kali berhasil dengan operasi yang dilakukannya. Aku bermaksud...”
“Tidak, Paula!” Geriand memotong. “Aku... aku takut ini hanya sia-sia.”
“Geriand!” Gadis itu balik memotong. “Satu-satunya hal yang ingin aku dapati di hidupku ini hanyalah kebahagiaanmu. Bahkan jika seandainya Tuhan mengijinkan, dengan senang hati aku ingin menggantikanmu menanggung kesakitan ini! Aku telah mendaftarkanmu sebagai salah satu pasiennya. Aku juga telah memberikan semua catatan medismu. Maaf, karena aku tak memberitahumu sebelumnya!”
“Paula, maafkan aku! Aku hampir saja menyia-nyiakan apa yang telah kamu usahakan untukku. Aku tak akan pernah rela kehilangan kamu,” ungkap Geriand sepenuh hati.
“Sudahlah, yang terpenting sekarang, kau harus menyiapkan dirimu untuk masa persiapan operasi.”
Geriand mengerutkan keningnya. Ia tersadar akan sesuatu.
“Tenggorokanmu masih belum sembuh, Sayang? Suaramu tidak lagi seperti dulu,” tanya Geriand beralih dari masalahnya.
“Hm... Benarkah? Ya, mungkin aku mesti lebih sering meminum penyegar.”
Geriand tersenyum.
“Suaramu membuatku ingat pada seseorang.”
“Oh ya? Siapa?”
Geriand terdiam sejenak kemudian ia menjawab. “Entahlah, aku tak ingat.”
.....................
“Kau tak mengingatku. Begitu mungkin untuk ketiadaanku di hatimu. Benarkah aku sangat tak berarti bagimu, Geriand? Seandainya kau mengenal diriku sejatinya, aku yang akan selalu ada menjagamu tanpa harus memiliki alasan mengapa kau kucinta? Sementara itu aku terus mencundangi diriku dengan menggantikan cinta dalam hari-harimu tanpa ada yang tahu jika aku hanyalah seorang PEMBANTU! Ya, aku hanyalah FALLEN si pembantu! Aku yang setiap saat bisa terjatuh karena terpisah darimu,” jerit gadis itu dalam hati.
*          *          *
Suara langkah kaki Fallen tak begitu jelas terdengar saat ia berjalan menuju kamar tidurnya. Ia tersentak saat lengannya ditarik paksa oleh sesorang yang ia amat kenal.
“Nona Paula?”
“Kau pasti senang bisa terus bersama-sama kekasihku sepanjang hari?”
“Apa maksudmu, Nona?” tanya Fallen yang sebenarnya mengerti apa maksud Paula.
“Jangan menunjukkan wajah lugumu! Kau pikir aku tidak tahu kalau kau menyukai majikanmu sendiri? Calon suamiku! Dan, apa kau pikir aku tak tahu kalau kau menggunakan namaku untuk mendekati Geriand?”
“Apa itu salah, Nona? Bukankah akan lebih salah lagi jika Tuan Geriand tahu jika wanita yang selama ini menemaninya bukanlah Nona?”
“Jadi… kau merasa jika Geriand akan mencintaimu jika dia tahu kalau kau amat mencintainya? Tidak, Fallen! Dia mencintaku, amat… sangat…!”
“Aku juga mencintainya. Dan aku akan pergi sekarang juga jika Nona menginginkan itu.” entah angin apa yang membuat nekad gadis yang sebenarnya hanya seorang anak pembantu ini berbicara lancang kepada orang yang cukup punya kuasa untuk memecatnya.
“Ayolah, Fallen! Jangan membuatku berpikir seolah hidupmu telah hancur hanya untuk mencintai Geriand! Kau tidak perlu membuktikan pengorbanan cintamu di hadapanku!”
“Ini bukanlah pengorbanan cinta, Nona! Ini hanyalah pengabdian seorang pembantu,” Fallen menenggelamkan citranya kembali.
“Bagus! Tapi aku tak ingin kau pergi sekarang. Aku ingin kau datang di hari pernikahanku nanti, mengiringi perayaan dengan sebuah lagu seperti pada saat pertunanganku. Setelah itu, baru kau boleh pergi. Bahkan harus!” ucap Paula terakhir sebelum ia pergi meninggalkan Fallen tanpa pamit.
*          *          *
Kamar itu adalah kelas utama di rumah sakit ini. Dipersiapkan memang untuk pasien seberada Geriand. Operasi akan dilaksanakan sore ini. Nastiti Paula ataupun keluarga Dimitri berencana akan datang siang nanti seusai mereka menyelesaikan urusan bisnis yang menyita waktu mereka setiap hari.
Fallen datang menemui Geriand pagi harinya.
“Paula, jika operasiku berhasil, orang yang pertama kali ingin kulihat adalah kamu. Ya... tentunya selain dokter!”
“Ha...ha!” tawa Fallen tipis dan singkat. Tawa itu sama sekali tak bisa menutupi sendu hatinya. “Tentu itu akan terjadi seandainya kau sembuh nanti. Karena aku tidak lagi akan di sini,” pikir Fallen kemudian.
“Sayang, entah mengapa aku merasa akan kehilangan sesuatu. Semoga itu bukan kesempatanku untuk sembuh!” Geriand membayangkan kemungkinan-kemungkinan buruk yang bisa terjadi padanya apabila ia menjalani operasi ini.
“Apa yang kamu bicarakan? Kamu akan sembuh, Geriand!” Fallen berusaha membangun semangat Geriand. “Aku ingin menyampaikan sesuatu padamu. Tapi kau harus membacanya sendiri,” alihnya.
“Baiklah, mana yang harus kubaca?”
“Tunggu sebentar!” Fallen menyambung puzzle plastik yang bercetakan sebuah huruf Braille tiap kepingnya. Ia lantas memberikannya pada Geriand.
Geriand  meraba setiap huruf yang timbul dalam susunan itu.
“Aku…hanya…bisa…mencintaimu...” Geriand membacanya sedikit demi sedikit. “Paula...!” panggilnya lirih. Geriand sungguh luluh dan terharu mengetahui isi hati gadis yang dalam sepengetahuannya adalah tunangannya, Paula.
“Geriand, aku ingin memeluk kamu, kali ini saja!”
Tanpa jawaban sepatah kata pun dari Geriand, Fallen langsung memeluknya erat. Ia menangis karena ia tahu jika ini adalah kali terakhir ia bisa berada di sampingnya. Suatu hal yang sangat menyakitkan saat cinta tak pernah memihak. Bahkan keadaan dan waktu sekalipun tak ingin menolong si pencinta untuk dapat mencintai.
“Mengapa kau menangis?”
Fallen tak menjawab. Ia melepaskan pelukannya dan bergegas mengambil sesuatu di atas meja.
“Aku membelikanmu sepatu kets. Setahuku, kau sangat suka mengoleksinya. Kalau kau tak menyukainya, terserah mau kau apakan.”
“Terima kasih, Sayang! Warnanya apa? Aku jadi penasaran dan ingin cepat memakainya!”
“Abu-abu tua.”
“Sudah lama aku memesan warna itu di tempat langgananku tapi mereka tidak juga mengirimnya. Sekali lagi, terimakasih!”
“Geriand, aku harus pergi sekarang...”
“Kamu mau kemana?”
Fallen tak mungkin menjawab pertanyaan itu. Ia mengecup kening Geriand perlahan lalu pergi meninggalkannya.
 *         *          *
Pesta pernikahan dua sejoli yang tak terpisahkan itu dilaksanakan di taman belakang yang luas dan sejuk. Seorang pengusaha muda yang kaya akhirnya bersatu juga dengan cinta sejatinya yaitu putri keluarga Dimitri, Nastiti Paula.
Pernikahan tersebut telah dinyatakan syah. Terdengar bunyi dentingan dari piano putih yang selaras dengan kursi serta dekorasi pelaminan bernuansa putih dalam agungnya sebuah pernikahan. Seorang wanita duduk memainkan piano yang ditaruh di sudut kanan podium hingga terkesan membelakangi pengantin dan para tamu undangan.
“There’s nothing I can do when you’re fading away
 There’s no chance to refuse your going
 Because that’s all your heart really need...
 I’d be anything you want
Dying for the better life without you… is a piece of sacrifice I would do
 You’re the only love in my sorrow
 And you’ve always been the man inside my heart”
Sang pengantin pria mengecup lembut kening mempelai wanitanya disaksikan oleh sekian pasang mata, bersamaan dengan terperciknya tetesan air ketika jatuh di atas tuts piano. Setegar mungkin gadis yang tidak lain adalah Fallen tersebut menyanyikan sebuah lagu untuk mengiringi kebahagiaan mereka, menahan gemetar karena tangis dan kesedihan. Lantunan, denting, serta percikan air mata bersatu dalam restu setengah hati yang menjadi sebuah hadiah pernikahan.
“You’ve always been the man inside my heart...”
*          *          *
Malam itu begitu dingin. Gerimis mulai menyerbu setitik demi setitik. Fallen berjalan di atas loteng sebuah losmen dimana ia tinggal sekarang.
“Aku tak tahu lagi bagaimana kesedihan akan tersapu? Aku juga tak tahu dimana tempat menemukan kau dan aku bersatu? Aku terjatuh atas nama cinta, yang tercipta bukan atas nama waktu, melainkan ketulusan dan suatu hal yang mereka sebut alasan.”
Ia melangkah di atas sebuah kerangka besi bekas papan reklame di atas gedung minimarket di seberang yang roboh menimpa losmennya dan telah lama dibiarkan seperti itu. Meskipun besi itu bisa menghubungkan dua bangunan tersebut, namun belum pernah ada yang berani menggunakannya sebagai jembatan lantaran besi-besinya sudah keropos.
Fallen bagai kehilangan pikirannya. Bahkan orang-orang lebih sering menyebut tingkahnya ini sebagai kegilaan. Ia berjalan hingga ke tengah besi, berdiri di antara bangunan losmen dan minimarket. Ia lalu duduk dan menjuntaikan kakinya ke bawah.
Gerimis kian menyerupai hujan.
“Kubiarkan hujan menghapus kesedihanku. Agar aku dapat terbangun dari mimpi buruk ini, yang membuatku tak mampu memimpikan hal lain selain engkau” Fallen terus berkata-kata sendiri.
Seorang pria datang menghampirinya dari arah losmen. Ia berdiri di ujung jembatan papan reklame sambil menatap Fallen. Gadis itu pun balas menatapnya dan tersenyum kecil menyambut kedatangannya. Pria itu melepas sepatu kets abu-abu tuanya dan berjalan menghampiri Fallen.
~THE END~